APA ARTINYA AL-AQSA TANPA AL-QUDS

Banda Aceh|globalkini – Justru untuk memilih arah kiblat pun kau harus menentukan pilihan, kau harus memilih Islam dan orang Islam sudah tentu beriman.

Tidak usah kecewa dengan pilihanmu sebab pilihan* yang dibuat saat ini menentukanmu di masa depan. Pilihlah yang baik* pasti menuai keberkahan untukmu, ibaratnya ketika kau dihadapkan dengan dunia lihatlah ke tanah, saat kau dihadapkan dengan akhirat maka lihatlah ke langit.

Pada masa Nabiyullah Ibrahim A.S terjadi sebuah kisah yang mengerikan dimana Nabi Ibrahim A.S dibakar oleh Raja Namrud, pada saat itu ada dua binatang yang mengambil peran penting, yaitu burung Pipit dan seekor Cicak. Burung Pipit mondar mandir mengambil air untuk memadamkan api dan Cicak itu pun menertawakannya dan memilih meniupkan bara api tersebut. Yang perlu diketahui dalam logika kita, mustahil burung pipit tersebut dapat memadamkan api hanya dengan percikan kecil dari air yang bisa dibawanya, dan mustahil pula api itu lebih besar saat cicak ikut meniupkannya.
Dalam hal ini kita dapat mengambil hikmahnya, yang mana sebuah pilihan yang baik dan mana contoh pilihan yang buruk.

Kita berbalik kemasa sekarang Israel dan Palestina menjadi perbincangan dunia dari masa kemasa hingga belum adanya titik temu yang disebut oleh orang barat perdamaian. [?]

Nah kita kembali pada masa lalu ada zamannya dimana para pemegang kekuasaan orang kafir dan yahudi. Salah satu sejarahnya pada saat di batalkannya hasil pemilu demokrasi di Mesir, yang memenangkan Dr. Musdi dari partai Ikhwanul Muslimin, dan tetap digempurnya Palestina meskipun Kelompok Hamas memenangkan suara.

Sistem demokrasi adalah sistem politik buatan kafir & yahudi, akan tetapi jika hasil demokrasi tidak menguntungkan mereka, maka tetap terjadi hal-hal yang merugikan umat Islam dan inilah sebenar-benarnya zaman diktator.

Pada zaman inilah rasa-rasanya apa yang disebutkan Rasulullah Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam, dimana umat Islam berada pada jumlah yang banyak namun mereka tak begitu berharga seakan buih dilautan. Keberadaan mereka dikebiri oleh musuh-musuh Islam seperti sebuah hidangan makanan yang diperebutkan.

Sungguh upaya dan daya dari orang-orang dan kelompok-kelompok yang tidak senang dengan islam, telah menemui keberhasilan mereka. Mereka telah berhasil membuat kaum Muslim berpikir bahwa agama islam hanyalah ritual, sehingga mereka bisa lega dari ketakutan akan kaffah (ritual dan politis) kaum Muslim.

Mereka telah berhasil membuat pandangan bahwa Al-Qur’an dan As-Sunnah bukanlah satu-satunya sumber rujukan kaum Muslim tetapi hanya pilihan sehingga mereka bisa menjual standar, aturan, dan nilai-nilai rendah mereka kepada kaum Muslim.

Mereka telah berhasil membuat kaum muslim merasa takut, ketinggalan zaman ketika mempelajari islam sehingga mereka dapat selamat dari ketakutan mereka, yaitu bersatunya kaum Muslim, berhasil membius kaum Muslim dengan budaya dan keindahan semu dunia sehingga mereka bisa tetap memeras kekayaan kaum Muslim.

Mereka pun telah berhasil membuat kaum muslim terpecah belah dengan oknum-oknum hasil didikan mereka sehingga mereka selamat dari kekuatan kaum Muslim yang bersatu.
Mereka berhasil membuat persepsi bahwa pengemban Islam adalah menakutkan dan tidak professional sehingga kaum Muslim yang belum mengerti justru berpaling menjauh dari dakwah Islam.

Oleh karena itu perlu mengembalikan bagian yang hilang ini pada kaum Muslim, agar mereka sadar entitas Muslim sesungguhnya dan menjadikan islam sebagaimana tuntunan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam dan generasi-generasi terbaik berikutnya.

Seharusnya kita mengatakan kepada orang-orang yang meragukan kebangkitan Islam ataupun orang yang menyimpang dari jalan lurus Islam untuk berkompromi dalam keburukan, dengan firman Allah Subhanahuwa ta’ala: “Katakanlah apakah kamu lebih mengetahui ataukah Allah, dan siapakah yang lebih dzalim daripada orang yang menyembunyikan syahadah dari Allah yang ada padanya?” Dan Allah sekali-kali tidak lengah dari apa yang kamu kerjakan (Terjemahan QS Al-Baqarah [2]: 140)

Yahudi selalu berpikiran sempit dan Allah telah mengatakan dalam Al-Qur’an bahwa mereka akan membuat kerusakan dimuka bumi dan itu hanya dua kali. Ibaratnya masa kini banyak manusia sudah berlebihan dengan tipikal dan tabiat Yahudi karena nilai-nilai norma demokrasi saat ini dibuat dengan demokrasinya barat yang kita sebutkan tadi. Contoh kecilnya adalah tingkatan kepercayaan seseorang, zaman sekarang manusia percaya apa yang sudah mereka lihat, dan ngawurnya manusia mereka punya mata lantas menilai dengan telinga, pertanyaannya selogis itukah dan sesederhana itukan. [?]

Begitu juga Yahudi mereka percaya dengan apa yang mereka lihat dan mereka menalar dengan logika mereka. Tapi sayangnya mereka hanyalah kaum yang tertipu, bagaimana tidak! Pada masa Nabiyullah Musa A.S dikepung dan dikejar oleh tentara Fir’aun (Namer) yang pada saat itu mereka sudah sampai di jalan kebuntuan yang ada dihadapan mereka hanyalah laut yang terpampang luas, mereka berpikir dan berkata sesuai dengan logika mereka bahwa mereka pasi tertangkap. Namun Nabiyullah Musa A.S adalah menampakkan kebodohannya namun tidak bimbang dan hanya berharap pertolongan Allah, sehingga diperintahkannya Nabi Musa A.S untuk melemparkan tongkatnya ke arah laut dan terbelahlah laut tersebut, apakah itu ada dalam logika Yahudi ? Yang namun mereka melihat dengan mata kepalanya.

Pada suatu ketika Rasulullah S.A.W saat terjadinya peristiwa isra’ mi’raj, saat itu ada satu kisah penting yang harus digarisbawahi saat Yahudi mengatakan kepada Rasulullah “Hai Muhammad, belahlah bulan itu dan kami akan menjadi pengikutmu” Apakah bulan dibelah oleh Rasulullah? Ya tentu dibelah dan terbelah, pertanyaannya apakah yahudi yang berkata itu memeluk Islam? Justru tidak. Begitulah tabiatnya kaum perusak dan hanya hidup untuk merusak dimuka bumi.

Sama halnya merampas Palestine seperti saat ini. Mereka bersatu dengan sekutunya dan mereka pasti akan merusak dan terus merusak hingga datangnya Al-Mahdi dan turunnya Nabiyullah Isa A.S dan Dajjal bersama dengan mereka. [!]

Hidup adalah pilihan adalah sebuah kalimat yang mungkin sangat sederhana dan seringkali kita dengar dan baca. Namun, tidak banyak di antara kita yang benar-benar memahami lalu mengaplikasikannya dalam kehidupan sehari-hari.

Banyaknya pembahasan tentang hal ini, ternyata belum juga berkorelasi dengan pelaksanaannya…

Hidup adalah pilihan kita hidup berdasarkan pilihan yang kita buat, kita akan dinilai dengan pilihan yang kita buat, kita akan dihargai sesuai dengan pilihan yang kita buat, kita akan menjadi seperti apa yang kita pilih dalam setiap segmen dari kehidupan kita.

“Pilihan Kita di Dunia Keadaan Kita di Akhirat” sering kita mendengar kata ini, namun sudahkan kita menerapkan dan mengaplikasikannya. [?]

Hidup adalah pilihan yang kita pilih dengan bebas. Tidak ada seorangpun yang bisa memaksa untuk memilihkan jalan hidup untuk kita. Kalaupun ada orang lain yang menentukan pilihan bagi kita, kita masih memiliki pilihan, apakah mau menuruti pilihan itu atau tidak? Pilihan hidup yang kita buat 100% dalam kendali kita.

Namun sayang sekali, mereka hanya membatasinya sampai pada keluhan, tanpa menyadari bahwa semua yang mereka keluhkan adalah hasil pilihan mereka sendiri.

Mengeluh, mengeluh dan mengeluh !
Artinya selama mereka tetap mengeluh akan keadaannya dan tidak berubah dan melakukan pilihan yang berbeda maka hidupnya sudah dipastikan tetap dalam keadaan yang sama. Ingat, bahwa keadaan kita saat ini adalah hasil pilihan-pilihan yang kita buat dimasa lalu. Apabila kita menginginkan keadaan kita berubah maka konsekuensinya segera mengganti pilihan-pilihan hidup kita.

Memilih atau tidak memilih juga termasuk sebuah pilihan. Setiap saat kita dihadapkan pada pilihan-pilihan yang harusnya kita tentukan. Sekali lagi apa yang anda pilih pada masa lalu menentukan seperti apa keadaan anda saat ini, dan apa yang kita pilih saat ini menentukan seperti apa keadaan kita dimasa depan.

Banyak manusia tidak menyukai keadaannya yang sekarang, mereka mengeluhkan kondisi ekonomi yang paspasan, keluarga yang berantakan dengan pasangan hidup dan anak-anak yang selalu menyusahkan, keahlian yang paspasan, jabatannya yang tak kunjung naik, dan keluhan-keluhan lainnya.

Hal yang sangat jelas adalah bahwa manusia tidak akan bisa membuat dua pilihan yang sama dalam waktu yang sama. Pilihan itu ibarat fokus pada kamera, kita tidak bisa membuat dua fokus pada gambar yang sama. Seperti kita bahas tadi.

Ketika anda membaca tulisan ini berarti anda meninggalkan pilihan untuk melihat paragraf yang ada sebelum dan sesudah tulisan ini.
Anda tidak bisa memilih dua hal secara bersamaan. Apabila kita memilih untuk belajar masak, berarti pada saat yang sama kita meninggalkan pilihan untuk menjahit atau pilihan-pilihan lainnya. Ketika kita memilih menjadi orang yang beriman maka pada saat yang sama kita meninggalkan pilihan menjadi orang kufur kepada Allah. Apabila kita taat kepada Allah pada saat yang sama pula kita tidak mungkin bermaksiat kepada Allah. Pada saat kita memilih untuk menjadi aman maka pada saat yang sama pula kita meninggalkan pilihan untuk menjadi takut.

Jika Anda berpikir bahwa anda bisa memilih dua pilihan yang sama dalam waktu yang sama, dan fokus juga dapat dilakukan pada dua fokus dalam waktu yang sama? Maka Perhatikan hadits ini:
Berkata Allah Azza wa Jalla; “Aku tidak akan menghimpun dua rasa takut dan dua rasa aman pada diri seorang hamba. Jika ia takut kepada-Ku di dunia, maka Aku akan memberikannya rasa aman di hari kiamat. Jika ia merasa aman dari-Ku di dunia maka Aku akan memberikan rasa takut kepadanya di hari kiamat” (HR. Ibnu Hibban)

Sama seperti Anda dan Saya. Dalam semua situasi kita dihadapkan pada pilihan untuk melihat pada tujuan (Visioner) atau pilihan untuk melihat pada hambatan (Pragmatis). Apabila kita visioner maka kita tidak akan pragmatis, sebaliknya seseorang yang pragmatis meniscayakan bahwa dia bukan seorang visioner. Orang yang pragmatis selalu menjadi realitas dan fakta sebagai pembatas dan dasar tindakannya, sementara orang yang visioner menjadikan keinginan dan harapannya sebagai pembatas dan dasar tindakannya.

Oleh karena itulah, seorang pragmatis akan selalu mengubah tujuannya sesuai dengan keadaan, sedangkan seorang visioner akan senantiasa mengubah fakta agar sesuai dengan tujuannya. Oleh karena itu, wajarlah apabila kita melihat kenyataan bahwa wajah dunia ini dibentuk oleh orang-orang visioner dan selanjutnya akan diikuti oleh orang-orang pragmatis. Kaum muslim pun dihadapkan pada dua pilihan, muslim pragmatis atau muslim visioner. Muslim yang menyerah dan berkompromi atau muslim yang konsisten.

Jadi sekali lagi! Hidup adalah pilihan apa yang kita lihat pada diri kita hari ini dan apa yang kita lihat pada diri orang lain hari ini adalah hasil dari pilihan-pilihan yang kita dan mereka buat pada masa lalu. Keadaan hidup kita masa depan akan ditentukan oleh apa saja yang kita pilih saat ini. Sekarang pun sebenarnya kita sedang menulis kisah hidup kita sendiri disebuah buku yang mempunyai judul dengan nama kita sendiri, dan saat ini pun kita sedang menuliskannya, setiap hari lembar demi lembar.

Anehnya, terkadang kita melihat orang-orang tidak menyesuaikan pilihan hidupnya dengan yang dia inginkan. [!]

“Ibaratnya! Muda foya-foya, tua kaya raya, lalu mati masuk surga”. Sebuah slogan yang ngawur, yang tidak mungkin akan terjadi karena hidup adalah pilihan.

Dengan memahami hal ini maka apabila seseorang yang lain, dan mendapatkan apa yang ia inginkan, dengan mudah dia dapat melakukan dengan cara mengubah setiap pilihan dalm hidupnya sesuai dengan orang yang di inginkan untuk diikuti. Pertanyaannya! Sesederhana intukah? Ya, memang sesederhan itu!

Rasulullah adalah seorang manusia yang sudah pasti masuk surga, dan Rasulullah memasuki surga Allah karena pilihan-pilihan yang beliau buat semasa hidupnya. Dengan kata lain, apabila kita mengikuti setiap pilihan yang dibuat Rasulullah dalam menjalani hidupnya maka sudah dapat dipastikan kita akan memasuki surga yang sama-sama dimasuki oleh Rasulullah.

Kebanyakan di antara manusia memandang hanya pada hasil akhir, tanpa memikirkan proses pilihan-pilihan apa saja yang telah di jalani untuk mencapai hasil akhir tersebut.

Kita terkagum ketika menyaksikan anak kecil berusia 11 tahun dapat menghafalkan Al-Qur’an, seolah-olah itu adalah sesuatu yang tidak terjangkau oleh kita dan hanya bisa dilakukan hanya karena hidayah dari Allah. Selanjutnya menjadi legitimasi serta pembenaran kondisi kita yang belum menghafalkan surah apapun dalam Al-Qur’an.

Banyak mata terkesima ketika melihat video Maradona saat melewati pemain inggris dan mencetak goal, seolah-olah itu adalah bakat langit yang diberikan kepadanya. Pada saat yang sama, mereka seolah-olah melupakan bahwa hasil akhir yang dicapai Maradona itu adalah hasil dari pilihan-pilihan yang dia buat pada masa lalu, dan selanjutnya melakukan pembenaran bahwa semua itu karena bakatnya yang luar biasa.

Sama halnya ketika orang-orang mendengar kisah para mualaf yang telah bergabung dalam Islam, ketika mereka melafalkan ayat-ayat Allah dengan fasih dan dengan pemahaman Islamnya yang lebih baik daripada Muslim keturunan, lalu mereka melakukan pembenaran lagi dengan kata-kata “memang betul orang yang dahulunya non muslim, ketika mereka masuk Islam, mereka sungguh-sungguh dalam Islamnya dan lebih baik secara keseluruhan daripada muslim keturunan” atau dengan kata-kata “memang ketika Allah telah berkehendak memberikan hidayah, ilmu akan diberikan kepada orang yang diridhai dan diberikan hidayah-Nya”.

Melalui pembenaran-pembenaran seperti itu kebanyakan manusia menutup penglihatan mereka pada proses pilihan-pilihan yang dilakukan oleh mualaf tadi pada masa lalunya sehingga mencapai hasil akhir seperti itu.

Wallahu a’lam !

Saya berharap tulisan kecil dan sederhna ini akan menuai Inspirasi terbaik untuk kaum Muslim. Dan tulisan ini tidaklah untuk membenarkan, meninggikan saya dimata manusia sungguh-sungguh bagiku hanya Allah tujuanku. Semoga Allah memberikan keberkahan Iman di dunia dan Keselamatannya di Akhirat kelak untuk seluruh Muslim yang ada dipenjuru dunia.

Sahabatku Palestine Yang Sedang Melindungi Al-Quds sekaligus Tanah Para Nabi, Semoga Kami Termasuk Orang-Orang Yang Selalu Bersama Kalian, Kami Belumlah Sampai Ketanah Tersebut, Namun Kami Pasti Akan Menentukan Pilihan Untuk Bersama Kalian dengan Berbagai Cara Yang Akan Kami Lakukan. Sungguh Kami Hanyalah Jasad Tanpa Kepala Jika Kami Tidak Bersama Kalian, Sama Serperti Al-Aqsa tanpa Al-Quds Yang Selalu Kalian Pertahankan.

Banda Aceh, 02 November 2023 – 18 Rabiul Akhir 1445 H : Julfa Rinanda

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *